TUMBAL PESUGIHAN PART 2


#Tumbal_Pesugihan

Oleh: Adh Va

Setelah Sari kembali tertidur, buru-buru Bayu beranjak bangun dan berjalan ke arah gudang. Di mana di sana ada sebuah kamar rahasia yang tidak Sari ketahui.

Kreeeek ....
Bayu membuka pintu gudang yang setiap lewat tengah malam selalu ia masuki tanpa sepengetahuan istrinya. Ia kembali membuka pintu kamar yang ada di dalamnya. Ruangan itu terlihat remang-remang karena hanya menggunakan lampu minyak sebagai penerangan.
"Gawat ... ini benar-benar gawat," lirih Bayu begitu dilihatnya tumpukan daun sirih itu tidak juga berubah menjadi uang. "Bisa-bisa aku jatuh miskin kalau tidak segera mendapatkan tumbal itu." Tambahnya lagi.
"Kau lihat, Bayu! Ancamanku tidak main-main!" Terdengar suara Nyai Kembang menggema di ruangan itu.
"Iya, Nyai. Maafkan saya, besok saya janji akan memberikan tumbal itu," ucap Bayu meyakinkan.
"Aku pegang janjimu, tapi awas kalau kau sampai berbohong!" kata Nyai Kembang dengan nada tinggi.
"Tidak, Nyai. Sungguh, saya berjanji," ujar Bayu sembari menunduk.



***
"Apa? Sampai siang begini belum ada yang berbelanja?!" ucap Bayu dengan suara yang begitu nyaring.
"I-iya, Pak," jawab salah satu karyawan yang bekerja di mini market miliknya.
Terlihat Bayu mengacak-acak rambut pendeknya sembari berjalan ke sana ke mari. "Benar-benar gawat ini, aku bisa bangkrut kalau begini ceritanya," lirihnya.
Kriiiing ....
Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari pemborong yang bertanggung jawab mengurusi pembangunan mini marketnya yang baru.
"Iya, Pak Budi, ada apa?" tanya Bayu sesaat setelah ia menggeser ke atas layar ponsel miliknya.
"Begini, Pak Bayu, semua pekerja bangunan tidak ada yang masuk, mereka lebih memilih mengambil pekerjaan di tempat lain dengan bayaran yang jauh lebih tinggi," jelas Pak Budi dari seberang sana.
"Apa?! Jadi sekarang bagaimana?" Bayu terlihat begitu syok.
"Terpaksa mandek, Pak. Saya sudah mencoba untuk mencari pekerja pengganti, tapi begitu sulit," terang Pak Budi.
Bayu segera memutuskan panggilan telepon dan berlari ke luar. Entah akan pergi ke mana dia, sepertinya tanpa tujuan. Sampai pada suatu tempat makan, terlihat olehnya seorang perempuan yang sedang mengorek-orek tong sampah. Yang menarik perhatiannya adalah, perut perempuan itu yang tampak membuncit.
Bayu menepikan motornya dan segera berjalan menghampiri orang tersebut. "Ibu, Ibu sedang apa?" tanya Bayu dengan ramah.
"I-ini, Pak. Sedang mencari barang bekas. Maaf kalau tidak diperbolehkan," kata perempuan itu sembari bergegas hendak pergi.
"Eh ... Bu. Saya tidak melarang, saya cuma sekedar bertanya," kata Bayu sambil mencekal lengan Ibu itu.
"Ja-jadi betul, saya tidak apa-apa memulung di sini?" tanya Ibu itu dengan mata yang berbinar.
"Tidak apa-apa, Bu?" jawab Bayu.
"Kalau begitu, terimakasih, Pak."
"Ibu, tunggu sebentar, ya? Saya akan membelikan, Ibu makan," kata Bayu dengan lembut.
"Sungguh, Pak?" tanya Ibu itu seakan tidak percaya.
"Sungguh. Tunggu sebentar, ya?" Segera Bayu masuk ke tempat makan tersebut dan memesan beberapa bungkus nasi. Tidak begitu lama, ia sudah kembali lagi.
"Ini, Bu, silahkan dibawa pulang. Maaf, nama Ibu, siapa?" Bayu bertanya.
"Nama saya Minten, Pak ...," jawab Ibu itu tanpa curiga sedikit pun.
"Oh, Ibu Minten. Saya Bayu, Bu, yang punya mini market di ujung jalan sana," kata Bayu sembari menunjuk ke arah yang ia maksud.
"Terimakasih banyak, Pak Bayu. Saya tidak dapat membalas kebaikkan, Bapak. Semoga Allah yang membalaskannya," ujar Ibu itu dengan tulus.
"Aamiin ... terimakasih, Ibu," jawab Bayu sambil tersenyum.
***
"Bang, karyawan di mini market kita tadi bilang, katanya hari ini sepi pembeli, apa iya?" tanya Sari di sela-sela makan malam.
"Ya, namanya juga orang jualan, Dek. Kadang ramai ... kadang sepi," jawab Bayu dengan santai. Karena dia merasa sudah memperoleh persembahan untuk Nyai Kembang.
"Iya, sih, Bang?" kata Sari sambil mengangguk. "Jadi kapan kita akan ke rumah Ayah dan Ibu, Bang?" tanya Sari lagi.
"Tunggu beberapa hari lagi, ya? Setelah kita punya mobil," jawab Bayu sembari menggenggam tangan istrinya.
"Mobil? Memang, Abang mau beli mobil?" Sari seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya.
"Iya, Sayaaaang? Kamu mau mobil apa?" tanya Bayu.
"Serius, Bang?" Wanita itu masih tidak percaya.
"Serius. Apa tidak usah beli saja?" Bayu berpura-pura.
"Abang ...," rengek Sari manja.
Bayu tertawa melihat sifat manja istrinya yang tidak hilang-hilang sedari dulu. "Oke, tunggu beberapa hari ini, ya? Kamu yang akan pilih mobilnya," ujar Bayu sembari mencubit hidung bangir istrinya.



***
Dengan mengendap-endap, Bayu turun dari tempat tidur. Jam di dinding sudah menunjukkan hampir tengah malam.
"Bang ...?" panggil Sari ketika laki-laki itu hampir menjangkau pintu.
"Eh, Dek," jawab Bayu sambil menoleh. Tapi, kenapa mata wanita itu masih terpejam? Perlahan Bayu menghampiri dan dengan seksama memperhatikannya.
"Dek ...." Kembali ia memanggil. Tapi yang dipanggil tidak meresponnya sama sekali. "Syukurlah, ternyata dia cuma mengigau," ucap Bayu sambil mengelus dada.

Ini adalah kali keduanya Bayu menjalankan ritual tersebut, tapi rasa gugup dan takut masih saja ada di benaknya. Hembusan angin yang entah dari mana datangnya cukup membuat bulu kuduknya meremang.
"Persembahanmu telah aku terima, sekarang buka matamu!" Terdengar suara yang tidak asing lagi bagi Bayu.
Perlahan laki-laki itu membuka mata. "Terimakasih banyak, Nyai ...," ucap Bayu girang karena daun sirih yang selalu ia siapkan, kini telah berubah menjadi tumpukkan uang.
"Aku tidak pernah mengingkari janji dan mengecewakan abdiku, selama ia tidak juga mengkhianati dan mengecewakanku ... " ujar Nyai Kembang dengan senyum yang tersinggung di bibir merahnya.
"Pasti, Nyai. Pasti saya akan selalu menjadi abdi setia, Nyai, dan tidak akan pernah lupa dengan Persembahan yang, Nyai, inginkan," kata Bayu sembari menunduk hormat.
"Memang seperti itulah yang aku harapkan ...," jawab Nyai Kembang.
Setelah kepergian Nyai Kembang, segera Bayu memasukkan uang-uang tersebut ke dalam tas yang memang telah ia persiapkan, dan segera pergi meninggalkan ruangan rahasia itu ....
***
"Bang, dari mana?" tanya Sari ketika laki-laki itu hendak masuk ke dalam kamar. Terlihat ia berjalan dari arah ruang depan.
"Dari ... dari dapur. Iya, dari dapur," jawab Bayu gugup. Tampak ia menyembunyikan tas yang dibawanya.
"Apa itu, Bang?" Kembali Sari bertanya seraya berjalan mendekat.
"Ini ... tas," jawab Bayu kebingungan. Terlihat peluh membanjiri wajahnya karena rasa gugup yang mendera.
"Tas?" Sari mengulang perkataan suaminya. Tangannya terulur hendak meraih.
"Jangan, Dek. Ini kotor ...," kata Bayu seraya merangkul pundak Sari dan mengajaknya untuk masuk ke kamar.
"Aku cariin, Abang, di depan, loh ...," ujar Sari manja.
"Abang ambil minum tadi, Sayang ...." Bayu berbohong. Ketika Sari merebahkan tubuhnya, segera ia melemparkan tas yang berisi uang itu ke kolong tempat tidur.
"Baang ...?" panggil Sari dengan manja. Terlihat ia menjulurkan lidah guna membasahi bibir merahnya.
"Iya, Dek ...?" Bayu mendekatkan wajahnya. Ia begitu paham dengan bahasa tubuh Sari bila sedang berhasrat.
Permainan itu tidak terelakkan lagi. Keduanya bermandi peluh dengan nafas yang tidak beraturan.
"Kamu nakal, ya ...?" ujar Bayu seraya mencubit pelan pipi istrinya. Laki-laki itu tersenyum puas sembari menatap Sari yang masih polos.
"Abang, luar biasa." Puji Sari sambil balas mencubit hidung Bayu.



***
Kekayaan Bayu makin berlimpah, apalagi dengan tumbal yang rutin ia persembahkan. Kini, ia pun diterima dengan baik oleh keluarga istrinya, bahkan bisa dikatakan, dirinya adalah menantu kesayangan.
"Bang, Ayah mau pinjam mobil," kata Sari sewaktu mereka duduk-duduk di teras rumah sembari menikmati sinar rembulan.
"Memang mobil Ayah ke mana?" tanya Bayu tanpa menatap, matanya tetap sibuk pada layar ponsel yang ia genggam.
"Masuk bengkel," jelas Sari.
"Oh. Ya, udah pakai aja, gak papa," jawab Bayu sambil menoleh dan tersenyum.
"Makasih, ya, Bang ...," ucap Sari lega. Karena dia takut suaminya akan merasa keberatan.
"Kok, makasih? Kayak sama siapa aja." Bayu terkekeh. "Sudah malam, masuk, yuk?" Ajak Bayu sambil berdiri.
"Ayuk, aku juga udah mulai ngantuk," jawab Sari tanpa bergerak dari tempat duduknya.
"Ayo, katanya sudah ngantuk?" kata Bayu sambil berusaha menarik tangan istrinya agar wanita itu segera bangkit.
"Gendong ...," rengek Sari dengan manja.
"Gendong?" Bayu tergelak. "Ayo!" katanya lagi sembari sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
Tanpa diperintah dua kali, Sari segera naik ke punggung laki-laki tampan itu. Laki-laki yang tanpa sepengetahuannya telah bersekutu dengan iblis.
***
"Oweee ... oweee ...." Terdengar suara tangis bayi entah dari mana, tapi suaranya terdengar begitu dekat.
Sari perlahan membuka mata, dinyalakannya lampu yang tergeletak di atas nakas. Ia beranjak turun dan berjalan ke arah pintu. "Suara bayi siapa itu?" lirihnya sembari membuka pintu dan bermaksud hendak keluar.
"Dek," panggil Bayu yang membuat wanita itu begitu terkejut.
"Abang ... bikin aku kaget aja ...," ujar Sari sembari memegang dadanya.
"Mau ke mana?" tanya Bayu lagi sambil beranjak turun dan berjalan menghampiri.
"Aku dengar suara tangis bayi, Bang ...," terang Sari.
"Suara bayi? Bayi dari mana?" tanya Bayu.
"Ya, nggak tau, tapi sepertinya deket banget," jelas Sari lagi.
Bayu tampak gelisah, jangan-jangan ... suara bayi itu adalah suara dari bayi-bayi malang yang dengan tega telah ia tumbalkan.
"Bang. Kok, melamun?" tanya Sari sembari menepuk pundak laki-laki itu.
"Eee ... kamu mimpi barangkali?" kata Bayu.
"Enggak, Bang. Suaranya jelas dan deket banget." Sari kekeh.
"Sayang ... kamu cuma bermimpi, ayo tidur lagi." Ajak Bayu sembari menarik tangan istrinya, dan mengajaknya untuk kembali ke tempat tidur.
"Enggak, Bang ...!" Sari berkeras.
"Sayaaang ...?" Bayu segera membopong tubuh semampai istrinya.


"Bayi siapa ini?" tanya Sari sembari menatap ke sekeliling. Tidak ada apa-apa yang bisa ia lihat kecuali pepohonan besar dengan daun-daunnya yang begitu lebat, sehingga membuat tempat itu terasa dingin, teduh, dan terkesan angker.
"Sayang ... siapa yang dengan tega meninggalkan kamu di sini?" ujar Sari seraya berjalan menghampiri bayi yang tergeletak tanpa mengenakan pakaian tersebut.
Terlihat bayi dengan jenis kelamin laki-laki itu menggerak-gerakkan tangan dan kakinya sembari berceloteh. Terlihat begitu lucu dan menggemaskan.
"Kamu lucu sekali, gendut lagi ...," kata Sari sambil tersenyum. Tampak ia mengulurkan kedua tangan hendak menggendong si bayi, tapi kemudian diurungkannya karena tiba-tiba bayi lucu itu berubah menjadi sangat mengerikan.
"Hah! Ti-tidaaak ...!" teriak Sari sembari melangkah mundur dengan tatap mata yang tetap tertuju pada bayi itu.
Tampak tubuh bayi tersebut menjadi biru lebam, dengan tangan dan kaki yang terlihat seperti patah, kedua bola matanya nyaris keluar dengan telinga, hidung, dan juga mulut yang mengeluarkan darah kental yang menyiarkan bau anyir bercampur busuk.
Tampak istri dari Bayu itu membekap mulut dan memegangi perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk.
"Mama ... mam-mam-maaaa ...." Terdengar suara bayi itu yang teramat menyayat hati.
Terlihat ia merangkak ke arah Sari dengan susah payah karena tulang tangan dan kakinya yang patah.
"Jangan mendekat! Pergi! Pergiii!" teriak Sari sambil beringsut mundur.
Bayi mengerikan itu berhasil menggapai kaki Sari dan kemudian mencengkeramnya dengan erat.
"Lepas! Lepaskan saya ...!" pekik Sari sembari menghentak-hentakkan kakinya. Bukannya terpental, bayi itu malah semakin erat mencengkeram.
"Lepaaaas ...! Abaaang ...! Toloooong!" Sari berteriak sekuat tenaga.
"Dek. Ada apa, Dek? Kamu mimpi?" Bayu mengguncang tubuh istrinya yang menjerit-jerit dan terlihat seperti meronta-ronta.
Segera wanita itu membuka mata. Tampak wajah dan sekujur tubuhnya dibanjiri oleh keringat. "Abang ...!" panggilnya kemudian sembari bangkit dan memeluk erat sang suami. Ia tersedu dalam dekapan laki-laki yang telah membuatnya bermimpi buruk.
"Ada apa, Dek. Kamu mimpi apa?" tanya Bayu sambil mengusap-usap punggung wanita yang teramat dicintainya itu.
"Bayi, Bang ... bayi yang sangat mengerikan ...!" kisah Sari masih dengan tangisnya.
"Bayi?" lirih Bayu.
"I-iya, Bang. Aku takut ...," ujar Sari sambil meremas-remas baju bagian belakang suaminya.
"Kamu cuma mimpi, Dek. Cuma mimpi ...," kata Bayu berusaha menenangkan.
***
Bayu mempertanyakan semua teror yang dialami oleh sang istri kepada Nyai Kembang, sesembahannya.
"Itulah ujian ... tergantung kuat atau tidaknya kalian!" jawabnya yang membuat Bayu semakin bingung, tidak tau harus berbuat apa untuk mengusir roh-roh yang telah ia tumbalkan.
"Tapi, Nyai, kenapa harus istri saya, yang tidak tau apa-apa tentang masalah ini?" Kembali Bayu bertanya.
"Tidak, bukan hanya istrimu saja, tapi kau juga. Kau tinggal menunggu waktu!" ujar Nyai Kembang sambil tersenyum sinis.
"Kalau saya memilih mundur, Nyai?" Bayu bertanya.
"Kekayaanmu akan hilang, dan nyawamu akan aku renggut! Tidak ada kata mundur setelah maju!" Wanita cantik itu berujar.
"A-apa?"
"Bukankan dari awal sudah aku katakan? Tapi kau tidak perduli! Hanya kekayaan dan kebahagiaan di dunia yang kau harapkan!" ucap Nyai Kembang lantang.
"Ba-baik, Nyai. Saya tidak akan mundur," kata Bayu sembari tertunduk.
"Bagus ...! Itu yang aku mau!" Wanita itu tersenyum.
***
Tiba saatnya untuk kembali memberikan Persembahan, dan kali ini Bayu bingung harus mencari di mana. Ia benar-benar tidak dapat tidur.
"Bang, kok, gelisah gitu? Ada apa?" tanya Sari yang ternyata memperhatikannya.
"Nggak papa, Dek. Cuma ...."
Kriiiing ....
Dering ponsel Sari menghentikan perkataan Bayu.
"Sebentar, ya, Bang ...?" kata Sari sembari mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas, ternyata dari Mbak Anis, Kakaknya. "Dari Mbak Anis, Bang," katanya memberitahu.
"Oh ... angkat saja," kata Bayu.
"Assalamu'alaikum, Mbak Anis, ada apa ini malam-malam telepon? Tumben?" kata Sari begitu ia menerima panggilan tersebut.
"Wa'alaikumsalam ... cuma mau menyampaikan kabar gembira saja, Ri. Nggak sabar mau nunggu besok," jawab Mbak Anis dari ujung telepon.
"Kabar gembira? Kabar gembira apa, Mbak? Kok, aku jadi penasaran, ya?" ujar Sari sembari mengernyitkan keningnya.
"Mbak hamil lagi, Ri. Sudah masuk dua bulan ...," jawab Mbak Anis dengan suara yang terdengar sangat bahagia.
"Apa. Jadi, Mbak Anis, hamil lagi? Alhamdulillah ...," ujar Sari ikut bahagia. "Semoga saja kali ini perempuan, ya, Mbak?" Tambahnya lagi.
Mendengar kata 'hamil', mata Bayu langsung terbelalak.
"Aamiin ... semoga saja, Ri. Dan semoga, kamu cepat ketularan juga, ya? Mbak sangat berharap sekali kamu bisa secepatnya hamil, Ri ...," ujar Mbak Anis yang membuat Sari sedikit bersedih.
"Aamiin, Mbak. Semoga saja ...," jawab Sari dengan lirih.
***
"Kita main ke rumah Mbak Anis, yuk, Dek?" Ajak Bayu sesaat setelah mereka selesai sarapan.
"Tumben, Bang?" kata Sari seakan tidak percaya. Karena sekarang suaminya itu begitu sibuk, bahkan sekedar untuk sesekali bersenang-senang saja tidak ada waktu.
"Kan, Mbak Anis lagi bahagia ... kita belikan dia bingkisan," ujar Bayu sambil tersenyum.
"Boleh, Bang. Kita belikan apa, ya?" tanya Sari tampak bahagia.
"Apa saja. Kamu yang pilihkan," jawab Bayu dengan hati yang berbunga-bunga, karena ajakkannya tidak ditolak oleh sang istri.
"Perlengkapan bayi aja kayaknya, Bang." Sari mendapat ide.
"Boleh ... boleh sekali," sahut Bayu antusias. "Dan harus ada makan-makannya juga, biar seru." Tambahnya.
"Masak sendiri apa beli, Bang?" Sari meminta pendapat.
"Terserah kamu, Sayang ... tapi sebaiknya beli saja, biar kamu gak capek," usul Bayu.
"Oke, Bang, siap. Kita beli di tempat makan favorit Mbak Anis aja, ya, Bang ...," kata Sari senang.
"Siap, Sayangku ...." Bayu mengacungkan ibu jari.

BERSAMBUNG
---Next---

Komentar